Kuatkan Pemberdayaan, Mahasiswa Unwaha Jombang Bentuk TPQ di Desa

INDONESIASATU.CO.ID:

jOMBANG - Mahasiswa-mahasiswi Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur memiliki program baru yaitu pemberdayaan Taman Pendidikan Al-Qur'an. Pemberdayaan TPQ bagi mereka merupakan langkah kongkrit untuk mengamalkan Tri Dharma perguruan tinggi.

Menurut Ketua Pelaksana Muhammad Mujabun, mereka menyasar sejumlah Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) yang berada di Desa Jenisgelaran, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

"Ada tujuh TPQ di Desa Jenisgelaran, semua kita didik dengan baik. Tujuh TPQ tersebut yakni TPQ Nurul Huda, TPQ Al-Ikhlas, TPQ Al-Muslimin, TPQ Balikkambang, TPQ Raidotul Mukminin, TPQ Jenisgelaran dan TPQ Sabilul Khoir," jelasnya, Rabu (10/7).

Lebih lanjut ia menjelaskan, pengabdian mahasiswa ini disambut antusias oleh warga sekitar. Bahkan menjadi motivasi tersendiri bagi warga untuk beribadah lebih giat lagi, misalkan giat mengaji, shalat Jumat, dan shalat jamaah di masjid.

Para orang tua sangat bersemangat untuk mengajar putra-putri mereka belajar setiap hari di TPQ-nya masing-masing. Dengan banyaknya santri TPQ yang datang semakin bersemangat pula mahasiswa-mahasiswi.

"Alhamdulillah pengabdian mahasiswa di Desa Jetisgelaran sangat bermanfaat, di mana anak di sini didik untuk lebih giat beribadah," ujarnya.

Dikatakan selama ini di media sosial marak ajakan kembali ke Al-Qur'an. Namun gerakan tersebut lebih sering fokus pada hukum yang berkaitan dengan ibadah dan kegiatan amaliah sehari-hari. Sehingga gerakan tersebut tidak menyentuh pada akar rumput seperti membina dan mengembangkan serta mensosialisasikan TPQ.

"Menurut keyakinan kita, gerakan kembali ke Al-Qur'an yang sejati itu adalah aktif di TPQ. Baik sebagai guru, pembina maupun donatur. Karena TPQ adalah pendidikan dasar bagi tunas muda," beber Mujabun.

Kehadiran mahasiswa di kampung seakan membawa energi baru bagi masyarakat, sehingga Unwaha berencana melanjutkan kegiatan agar kegiatan keagamaan masyarakat kembali hidup lagi.

Selain itu, ada banyak kegiatan keagamaan yang diselenggarakan dengan warga sekitar, dari tahlilan secara rutin hingga manaqiban, istighotsah, yasinan, diba', dan kegiatan keagamaan lainnya. "Gaya pengajaran kita juga menerapkan metode unik, happy, dan enjoy," tandas Mujabun. (M.Choirurrojikin/kla)

  • Whatsapp

Index Berita