"Lebaran", Tendensi Kearifan Borjuis di Sapudi

hasan, 23 May 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

"Dua manusia yang tidak akan pernah kenyang selamanya adalah pencari ilmu dan pencari harta," (Ali bin Abi Thalib)

Pulau Sapudi  merupakan salah satau pulau di Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur, yang di dalamnya ada dua penembahan (Asta) yang terkenal dengan Agung Belingi dan Adi Podey.  Konon katanya, merakalah yang membabat tanah Sapudi hingga menjadi tanah yang awalnya tandus menjadi lebih cerah dan bersahaja.

Pulau Sapudi terdiri dari dua Kecamatan yaitu Kecamatan Nonggunong dan Kecamatan Gayam  dengan jumlah penduduk kurang lebih sekitar  38.000  jiwa.

Kita acap kali  sering mendengar banyak orang menyebut Pulau Sapudi sebagai Pulau Sapi, karena melihat sapudi merupakan salah satu pemasok Sapi terbesar  di Indonesia. Dengan sapi khas yang ada di Sapudi, membuat sapudi menjadi terkenal ke segala penjuru.

Salah satu budaya yang masih kental sampai saat ini adalah Budaya Kerapan Sapi.  Sapudi merupakan  pembabat pertama kali  budaya Kerapan Sapi itu, yang hingga saat ini telah diangkat menjadi one of the tradition di Madura.

Tak hanya itu, banyak budaya lain yang masih arif dilakulan oleh masyarakat tradisional di Sapudi (Read: Masyarakat pedesaan). Seperti misal, teradisi Macopat, Jiduran dll.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyaknya generasi yang melanjutkan Pendidikan atau bekerja keluar pulau Sapudi. Mereka ada yang hanya untuk menempuh pendidikan seperti kuliah, dan ada juga yang hanya untuk bekerja. Sehingga mereka berupaya beradaptasi dengan gaya budaya baru.

Nahasnya, arus globalisasi yang semakin pesat, New Kapitalisme tidak hanya menyerang ranah perkotaan, mental yang arif dan santun pada pemuda dipedesaan khususnya Pulau Sapudi sudah mulai terkonstruk dengan kebarat-baratan.

Bagaimana tidak, sebab ketidak tersediaan lapangan pekerjaan disapudi membuat mereka (read: para pemuda) melakukan urbanisasi keluar kota, seperti Bali, Jakarta, Bandung, Tanggerang, Jogja, dan lain sebagainya.

Hal itu bermula dilakukan sejak tahun 90-an, banyak dari kalangan masyarakat Sapudi yang mencoba untuk membangkitkan ghirah keberaniannya (nekat) pergi keluar kota untuk mencari pekerjaan atau memulai hidup yang baru.

Bermula dari salah satu orang yang sukses karena kerja kerasnya di daerah rantau, semakin banyak konstruk pemikiran masyarakat yang ingin menunjukkan kegigihannya, ia berbondong dengan tangan yang penuh harap kesuksesan untuk menyusul pula dan bekerja di tanah rantau.

Jika kita Telisik dari Teori Hegemoni Antonio Gramsci,  hal tersebut adalah bentuk dari euforia hegemoni masif yang secara gamblang membawa pengaruh besar terhadap orang-orang pencari harta.  Karena hal itu tidak menutup kemungkinan terus akan diikuti oleh generasi selanjutnya.

Dalam Pemikiran Paulo Freire tentang sebuah bentuk kesadaran, ada tiga bentuk kesadaran yang dimaksud adalah, Kesadaran Magis, Kesadaran Naif dan Kesadaran Kritis.  Pada kasuistik ini, termasuk dalam formulasi Kesadaran Naif. Adanya doktrin yang secara kasat mata tidak disadari bahwa hal tersebur sangat cepat dalam mempengaruhi pola pikir manusia yang bermental pencari harta.

Bagaiman Kondisi Lebaran Di tanah Sapudi?.
Bisa kita lihat secara bersama, mereka para perantau dengan gigih serta rasa bangga karena kesuksesan yang ia raih,  membuat mereka adu kekayaan dengan menampakkan mobil mewah, sepeda motor mewah. Sehigga masing-masing insan merasa tersaingi, sempat pernah terucap dari salah satu perantau bahwa rasa gengsi jika pulang tidak membawa apa-apa, sementara ia bilang bertahun tahun-tahun urbanisasi.

Jadi mental borjuis seperti itu, akan terus berkembang di sapudi, dan kita akan selalu menemui disetiap perjumpaan lebaran. Lalu apakah keuntungan dari pada itu jika masih banyak masyarakat miskin yang tidak tersentuh dari kekayaannya.

Sebagaimana Gus Muhammad Al Fayyadl salah satu penulis Buku Filsafat Negasi berkata,  sangat berdosa jika belanja aksesoris mewah untuk persiapan lebaran (seperti Pakaian, Kendaraan) , disaat banyak orang mederita dan kekurangan karena musibah.

Dengan demikian, harusnya yang perlu ditekankan pada saat menjelang lebaran adalah  bagaimana membagi - bagikan seserpih harta kekayaannya untuk mereka yang lebih membutuhkan, bukan hanya untuk mencari panggung pujian karena asesoris yang dimiliki.

Hingga pada akhirnya,  Hari lebaran menjadi ajang pamer kekayaan yang jauh dari kata kearifan pulau Sapudi pada masa-masa sebelumnya. Adanya mental borjuis yang datang  merubah kearifan lokal, sehingga tanah sapudi pada akhirnya akan kehilangan budaya dan tradisinya.

*Tulisan ini menjadi hak penuh penulis untuk dipertanggung jawabkan sebagaimana mestinya

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu